Upaya Perempuan Mewarnai Dunia Kebijakan Publik

Di era keterbukaan informasi saat ini bukan hal mustahil ketika kita sering mendapatkan informasi tentang bagaimana perempuan juga bisa tampil dunia publik. Memang secara kodrat perempuan itu bisa hamil, menyusui dan melahirkan. Akan tetapi ditengah masyarakat saat ini sudah banyak yang memandang bahwa perempuan itu tidak hanya mempunyai tugas-tugas domestic (rumah tangga) itu semata. Saat ini tugas domestik itu juga menjadi tugasnya kaum laki-laki, maka tidak heran peluang perempuan untuk berkarir di eksternal rumah tangga juga banyak mendapat respon positif dari berbagai kalangan.
Seiring dengan keterbukaan dunia pendidikan yang membuka kesempatan untuk menimba ilmu bagi siapa saja yang berkeinginan mendapatkan pendidikan tanpa ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, maka saat ini kita juga sudah tidak susah mendapatkan perempuan yang menimba ilmu sampai perguruan tinggi. Keberanian perempuan untuk menekuni karier yang menjadi idamannyapun sudah bukan hal yang baru lagi.
Dalam dunia berorganisasi saat ini juga sudah banyak organisasi-organisasi yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat aktif didalamnya. Bahkan dunia perpolitikan pun juga sudah banyak perempuan yang terjun disana. Akan tetapi yang patut menjadi perhatian kita apakah dengan adanya keterbukaan mendapatkan pendidikan, berorganisasi, berkarier, perempuan disana sudah bisa dengan mudah untuk bisa berperan penting dalam mengambil keputusan-keputusan dalam institusinya?
[singlepic id=128 w=320 h=240 float=left]Jujur, realitas di lapangan banyak perempuan yang mempunyai kapasitas lebih dibanding laki-laki. Akan tetapi ketika dia mendapatkan giliran untuk mengambil keputusan dalam institusinya ia tidak bisa berperan penting karena dia seorang perempuan. Sifat perempuan yang perasa dan sering hanya menerima keputusan semakin memberi kesempatan pada laki-laki mengambil keputusan-keputusan sendiri dan kurang member peluang perempuan untuk aktif urun rembuk disana meskipun perempuan tersebut mempunyai kemampuan yang lebih. Akhirnya perempuan menjadi hal yang ‘biasa’ ditinggalkan dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam sebuah lembaga.
Itu baru salah satu kendala perempuan untuk unjuk gigi dalam institusinya. Kalau dalam lembaganya sendiri si perempuan sudah mengalami kesusahan ketika dia akan ikut beraktualisasi ikut mengambil keputusan-keputusan institusinya, tentu kita sudah mampu membayangkan bagaimana perempuan bisa ikut berperan dalam dunia kebijakan publik. Akibat sedikitnya peluang untuk bisa beraktualisasi di lembaganya bukan hal mustahil akhirnya perempuan menjadi malas untuk ikut membuka peluang-peluang bagi dirinya sendiri untuk bisa tetap eksis memunculkan ide-ide cemerlangnya yang bisa membawa kemajuan di lembaganya, apalagi di dunia kebijakan publik.
Seseorang yang ingin berkecipung dalam dunia kebijakan publik maka juga dituntut untuk bisa mengaktualisasikan pemikiran-pemikirannya di ruang-ruang publik. Kalau dalam lingkup organisasi katakanlah dunia kerjanya saja ia masih kesusahan mengaktualisasikan pemikiran-pemikirannya tentu dapat dibayangkan bagaimana lebih susahnya perempuan ketika akan berperan di dunia publik. untuk bisa berperan di dunia kebijakan publik seseorang itu dituntut mobilisasi yang besar, jiwa kokoh, relasi yang banyak, pengetahuan yang lebih mengenai hal yang akan diterjuninya dan sebagaiinya.
Kita tidak menutup mata bahwa kejelian dan ketelitian yang lebih dimiliki oleh seorang perempuan bisa membuat karier perempuan semakin eksis. Tetapi, disisi lain itu juga sering mengakibatkan seorang perempuan lebih dipilih mengurusi hal-hal domestik lembaga sehingga peluang perempuan ke eksternal lembaga menjadi berkurang. Mereka akan selalu disibukkan dengan urusan-urusan domestik institusi sehingga banyak kesempatan untuk terlibat aktif dalam dunia kebijakan publik terlewatkan begitu saja. Untuk itu mari kita dorong perempuan lebih bisa berperan dalam kebijakan public berawal dari melibatkan perempuan dalam berbagai peran untuk ikut terlibat mengambil keputusan-keputusan di lingkungan internal lembaga. Dan juga mendorong perempuan untuk bisa terlibat aktif dalam dunia eksternal lembaga. Dengan demikian nantinya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan untuk berperan di dunia public semakin berkurang dan bisa menghasilkan output-output yang lebih dalam pengambilan keputusan.

Oleh :
Sulatri
Pegiat Pattiro Surakarta

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *