Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Upaya Pelestarian Naskah Lama

IMG_5157 (Small)Penggunaan Information and Comunication Teknologi (ICT)
World Summit on Information Society (WSIS) – PBB,Tahun 2003 yang dihadiri oleh sekitar 191 delegasi dari berbagai negara merupakan Konferensi Tingkat Tinggi di Jenewa, Swiss – sebagai forum puncak aktivitas teknologi informasi internasional. Hasil yang dicapai dalam konferensi tersebut diantaranya adalah menekankan peranan penting Information and Communication Technology (ICT) sebagai salah satu pilar utama menuju masyarakat informasi. Target deklarasi WSIS adalah semua desa, sekolah, dan perpustakaan di dunia sudah harus memiliki koneksi Internet, listrik dan sarana komunikasi pada 2015.
Sebagai salah satu peserta konferensi tersebut, tentunya pemerintah Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan penggunaan ICT bagi masyarakatnya. Sebagai bentuk komitmen terhadap hasil WISS tersebut, pemerintah Indonesia mulai menggunakan e-government dalam melayani masyarakat. Munculnya undang-undang dan peraturan perundangan yang mengatur dan merekomendasikan percepatan peningkatan penggunaan ICT di masyarakat menjadi sebuah tanda bagi pelaksanaan komitmen tersebut.
Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan ICT di Indonesia telah merambah segala lini kehidupan. Jika Raymond William mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan cara hidup, maka masuknya ICT ke dalam kehidupan suatu bangsa atau kehidupan manusia mau tidak mau telah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa tersebut. Namun demikian, tentu saja hal ini tergantung dari sikap bangsa atau masyarakat dalam menyikapi kehadiran ICT dalam kegiatan hidupannya. Bagi bangsa atau masyarakat yang menerima kehadiran ICT, tentu saja akan terjadi perubahan-perubahan pola kehidupan dan kemasyarakatan. Bagi bangsa atau masyarakat yang menolak kehadiran ICT, akan mampu mempertahankan pola kehidupan dan kemasyarakatannya.
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya membutuhkan komunikasi dalam segala lini dengan bangsa atau masyarakat lain. Pemakaian ICT telah menjadi salah satu sarana komunikasi global antar manusia di seluruh penjuru dunia. Suatu bangsa atau masyarakat jika hendak melakukan komunikasi dengan kelompok bangsa atau masyarakat di penjuru dunia lain, mau tidak mau akan bersentuhan dengan ICT.

Naskah
Naskah merupakan sebuah bentuk peninggalan budaya yang sampai sekarang masih dapat dirasakan keberadaannya. Naskah merupakan peninggalan nenek moyang yang bermedia tulisan. Adapun tulisan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia terdapat dalam beberapa bahan misalnya batu, daun lontar, kertas, kulit kayu, dan sebagainya. Tulisan yang tertulis di batu sering kita sebut sebagai prasasti, sedangkan yang tertulis di kertas, daun lontar, dan kulit kayu sering kita sebut dengan naskah (Djamaris, 1977, h.20). Isi naskah itu dapat berupa peraturan-peraturan, karya sastra, silsilah raja-raja, dan lain-lain. Peninggalan naskah di Indonesia ini cukup banyak. Hal ini dapat diketahui dalam daftar naskah-naskah nusantara yang berada di Museum Naskah Nasional Jakarta, ditambah naskah-naskah yang berada di museum-museum daerah dan koleksi-koleksi pribadi.
Naskah lama diciptakan dengan latar belakang sosial budaya pada jamannya. Oleh karena itu, isinya juga mencakup berbagai segi kehidupan yang luas. Isi sebuah naskah dapat mencakup semua aspek kehidupan budaya suatu bangsa yang bersangkutan, dalam arti mencakup bidang-bidang seperti filsafat, kehidupan agama, kepercayaan, di samping masalah-masalah teknis seperti pembangunan rumah tinggal, pengadaan tanah ladang, pengajaran berbagai jenis keahlian dan ketrampilan, serta hal-hal lain yang menyangkut keperluan hidup bangsa yang bersangkutan secara menyeluruh (Haryati, 1991, h.2).
Naskah-naskah yang sampai ke tangan kita pada umumnya merupakan salinan yang kesekiankalinya di dalam usaha melestarikannya. Hal ini tidak mengherankan mengingat bahwa bahan naskah itu di dalam iklim tropis yang lembab tidak tahan lama. Cara penyimpanan yang tidak memenuhi syarat menyebabkan naskah rusak dimakan serangga (Sudjiman, 1995, h.47).
Naskah-naskah itu perlu untuk dilestarikan keberadaannya agar tidak musnah dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakatnya. Upaya melestarikan melalui penyimpanan sekarangdi museum-museum atau perpustakaan-perpustakaan dan mengolah dengan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya agar mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh pengembang kebudayaan, sehingga gagasan, informasi, dan pikiran yang terkandung di dalamnya telah dilakukan. Namun hal tersebut memiliki beberapa kelemahan. Pertama, rentan terhadap kemusnahan. Terjadinya bencana alam, kebakaran, pencurian dan kerusakan fisik menjadi ancaman musnahnya sebuah naskah. Terlebih dengan jumlah naskah yang jumlahnya mencapai ribuan, ancaman ini menjadi sebuah ancaman serius bagi bukti kehidupan, pengalaman, dan pengetahuan sebuah bangsa tersebut. Kedua, terbatasnya akses bagi pembaca. Naskah yang khusunya memiliki usianya di atas satu abad memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap kerusakan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya daya tahan kertas atau bahan yang dibakai untuk menulisnya. Apalagi jika penyimpanan dan perlakuan yang diberikan tidak tepat. Sehingga bagi masyarakat yang ingin membacanya perlu hati-hati dan tidak bisa dibaca. Meskipun bagi masyarakat yang menginginkan untuk memiliki hard copynya bisa dilakukan, namun hal inipun membutuhkan waktu untuk mencetaknya. Dan yang ketiga, jika masyarakat yang akan membacanya membutuhkan komunikasi dengan penyimpan, atau harus datang ke tempat penyimpanan tersebut.

Penggunaan ICT terhadap Pelestarian Naskah
Perlukah pemakaian ICT sebagai sarana pelestarian Naskah? Agaknya jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pengkajian lebih jauh. Meskipun masih memiliki kelemahan perpustakaan nasional di Jakarta telah memberikan sedikit bukti terhadap pemakaian ICT dalam melestarikan Naskah melalui digital library terhadap naskah koleksinya.
Beberapa kelemahan dari pemakaian ICT oleh perpustakaan nasional adalah:
1. Dari jumlah naskah (manuskrip) yang tersimpan di Perpustakaan Nasional, baru 24 naskah yang sudah menggunakan ICT dalam pelestariaannya. Selain lebih save terhadap kemusnahan –karena penyimpanan dilakukan dalam dunia maya dan diseluruh dunia- pemanfaatan ICT telah membuktikan bahwa naskah-naskah tersebut dapat dilihat dan dibaca oleh orang diseluruh penjuru dunia dalam waktu bersamaan tanpa mengancam rusaknya naskah asli.
2. Dari 24 naskah yang ditampilkan, perpustakaan nasional baru menampilkan wajah naskahnya. Tidak semua pembaca yang ingin membaca atau memahami isinya mampu membaca isi naskah tersebut. Akan lebih mudah dipahami dan dibaca oleh masyarakat luas jika ditampilkan juga transkripnya dalam beberapa versi bahasa. Hal ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan orang yang pernah meneliti naskah tersebut.
3. Naskah tidak bisa dilihat tampilannya secara sekilas karena untuk melihatnya harus men-downloadnya terlebih dahulu.
4. Bagi masyarakat yang memiliki koleksi Naskah pribadi belum bisa ikut berpartisipasi dalam melengkapi koleksi naskah. Akan lebih komunikatif dan kaya koleksi jika dibuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan koleksinya dengan tanpa merasa kehilangan naskah aslinya.

Bagaimanakah pemanfaatan ICT sebagai sarana pelestarian naskah di Kota Solo? Pertanyaan ini merupakan hal yang cukup menarik untuk dibuktikan dan dilaji. Karena selain visi Kota Solo sebagai kota budaya, juga terdapat dua bekas kerajaan besar yang didalamnya tersimpan ratusan naskah yang perlu dilestarikan dan diketahui isinya. Melalui naskah-naskah tersebut dapat dijumpai karya seni dan sastra, pengalaman hidup, kegiatan, imaginasi, sejarah, dan kehidupan yang pernah terjadi di Kota Solo jaman dulu. Misalnya saja salah Serat Kalatida, satu karya Ronggowarsito seorang pujangga besar jaman Keraton Kasunanan Surakarta, yang sering dikutip kebanyakan orang tentang jaman edan.

Bahan Bacaan:

  • Djamaris, Edward.1977. “Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi” dalam Bahasa dan Sastra. No. I tahun III.
  • Haryati, Subadio, 1991. “Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu.” Lembaran Sastra: Naskah dan Kita. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Sudjiman, Panuti. 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Depdagri. 2005. “Peran dan Strategi Depdagri dalam Pengembangan ICT Daerah“. NTT: Rapat Koordinasi Daerah II Kepala Kantor Pengolahan Data Elektronik Se Nusa Tenggara Timur..

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

1 Response

  1. Jamharbahy says:

    Bagaimana bisa bergabung dalam lembaga ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *