Raker di hotel, Dewan dikritik

Edisi : 11/24/2009, Hal.VIII

Boyolali (Espos)
DPRD Kabupaten Boyolali melangsungkan rapat kerja (Raker) di Hotel Agas Solo, Minggu-Senin (22-23/11).
Namun penyelenggaraan Raker Dewan tersebut mendapat kritikan pedas lantaran dinilai sebagai pemborosan anggaran di tengah kondisi keuangan daerah yang tengah mengalami krisis.
Direktur Eksekutif Pattiro Surakarta, Alif Basuki menyayangkan pemborosan anggaran APBD untuk keperluan penyelenggaraan Raker DPRD tersebut mengingat daerah tengah mengalami krisis anggaran.
“Di saat minimnya belanja langsung, seharusnya DPRD pun melakukan efisiensi anggaran. Namun dengan penyelenggaraan Raker yang menghabiskan biaya besar tersebut, menunjukkan mereka tidak memiliki rasa di saat belanja rakyat kecil,” ungkap Alif kepada wartawan, Senin (23/11). Alif mengatakan DPRD setempat bisa saja mengembalikan anggaran tersebut ke kas daerah bila dinilai tidak bermanfaat untuk rakyat.
“Seharusnya kegiatan tersebut dilaksanakan di DPRD saja. Jangan asal berparadigma ada anggaran, terus dibelanjakan. Dalam hal ini, DPRD seharusnya kritis terhadap anggaran untuk kebutuhan mereka,” imbuh Alif.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Boyolali, Thontowi Jauhari ketika dimintai tanggapan terkait hal itu mengatakan Raker tersebut dilakukan DPRD Boyolali untuk kepentingan pembahasan rencana kerja (Renja) dan pembekalan tentang APBD 2010.

Jadi kebiasaan
Dikemukakan Thontowi, bila dilihat dari sisi fungsi, Raker tersebut penting bagi anggota DPRD Boyolali mengingat dalam hal ini anggota memperoleh pembekalan terkait APBD tahun 2010. Namun diakui Thontowi, di sisi biaya, penyelenggaraan Raker tersebut memang menghabiskan anggaran cukup besar. Namun menurutnya, pihak DPRD hanya melaksanakan sesuai yang telah dianggarkan di APBD tahun 2009 lalu.
“Dan penyelenggaraan Raker semacam ini memang sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas seperti tahun-tahun lalu.”
Kendati demikian, Thontowi mengaku secara pribadi pihaknya juga merasa tidak nyaman dengan penyelenggaraan Raker tersebut karena mengarah pada pemborosan anggaran daerah. Menurutnya, kegiatan semacam ini ke depan bisa dievaluasi agar penyelenggaraan kegiatan serupa bisa dilakukan lebih efisien dan tidak boros, mengingat Boyolali tengah mengalami krisis anggaran. – sry

Source:
http://edisicetak.solopos.co.id/sp_search_detail_tamu.asp?id=42543

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

1 Response

  1. mas/mbak, di kawasan solo raya, misal boyolali, sukoharjo, dll (selain solo) kira2 APBD terutama PAD akan habis kapan ya seiring kenaikan UMK?
    dengan naiknya UMK maka naik pula tunjangan (gaji) perangkat desa yang mengikuti UMK. kalo dimagelang diprediksi habis pada 2013 PAD habis untuk tunjangan perangkat desa dan ADD.
    coba dech dianal isis. menarik tuh

    salam dari bhumi tidar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *