Problematika Pertanian di Kota Surakarta

“Kota Surakarta atau Solo masih mempunyai lahan sawah dan petani 10 Hektar?”, tanya Honda Hendarto, Komisi IV DPRD Surakarta dalam audiensi Gapoktan Tri Manunggal Tani ke DPRD, 17 Juli 2012 yang lalu dengan nada keheranan. Keheranan ini pantas dimaklumi karena memang kota Solo lebih terkenal sebagai kota perdagangan sejak zaman penjajahan belanda dulu. Dimana wilayahnya memang sempit dan sudah banyak berbagai bangunan berdiri diatasnya. Tapi ini juga menjadi keprihatinan kita bersama sebagai masyarakat jika para pejabat yang duduk di DPRD yang nota bene duduk disana untuk memperjuangkan aspirasi rakyat tidak tahu akan hal tersebut. Bagaimana akan memperjuangkan permasalahan disana jika dia taidak tahu permasalahan apa yang ada diwilayahnya termasuk pertanian.

Sampai saat ini luas lahan pertanian Kota Surakarta yang berwujud areal persawahan tinggal 10 hektar.  Sementara hasil rata-rata panen kurang lebih 8 ton/hektar. Daerah areal pertanian yang berwujud persawahan kebanyakan terdapat didaerah pinggiran Kota Surakarta. Seperti didaerah kelurahan Sumber dan  Kelurahan Banyuanyar. Adapun  jumlah petaninya adalah 49 orang yang kebanyakan merupakan petani penggarap bukan pemilik lahan”, Jelas Supadi, Ketua Gapoktan Tri Manunggal Tani.

Para petani yang tergabung dalam Gapoktan Tri Manunggal Tani sangat  kesusahan untuk mempertahankan kehidupan dunia pertanian.  Pertama adalah masalah perairan terutama di Kelurahan Sumber tepatnya di Jl Adi Sumarmo.  Di daerah ini memang kebanyakan pembuangan air larinya ke lokasi saluran besar.  Sementara yang mengalir ke lahan pertanian volumenya sedikit sehingga sangat bermasalah ketika musim kemarau. Para petani kesusahan mendapatkan pengairan untuk sawahnya untuk yang di selatan jalan. Padahal areal persawahan lebih banyak di selatan jalan.

Meskipun ketika musim hujan air senantiasa meluber hingga ke jalan raya ternyata air sebesar itu tidak sampai ke lahan persawahan. Hal ini karena disebabkan permasalahan saluran air yang tidak baik.  Untuk lokasi saluran air Garasi Bus Rajawali kebarat sudah bagus karena didaerah tersebut sudah dibuat salura air yang sudah baik dan berkapasitas volume besar. Sedangkan masih ada masalah masih sekitar 400 m ke timur dari Garasi Bus Rajawali.

Di saluran air yang bermasalah tersebut selain masalah saluran air yang  belum baik bisaanya juga disebabkan karena ada penyumbatan saluran air karena sampah dan lumpur yang semakin lama semakin menumpuk. Para petanipun sudah berusaha melakukan kerja bhakti untuk memperbaiki dan membersihkan saluran tersebut. Sayangnya dukungan dari masyarakat bukan petani yang tinggal di daerah tersebut cenderung apatis dan tidak mau peduli untuk ikut gorong royong. Tentunya dengan jumlah petani yang hanya sedikit masalah sebesar itu tidak bisa terselesaikan semuanya.

Sebenarnya masalah saluran air tersebut sudah di perjuangan dalam musyawarah kelurahan (Muskel) sejak tahun 2006. Bahkan pernah semua RT Kelurahan Sumber mengajukan usulan tersebut dalam Muskel secara bersama-sama. Akan tetapi realitanya hingga kini usulan perbaikan saluran air tersebut tidak pernah di setujui di APBD Kota Surakarta.

Permasalahan kedua adalah karena petani di Gapoktan ini kebanyakan merupakan petani penggarap, para petani juga ada ketakutan jika setelah diusahakan perbaikan sebaik mungkin untuk lahan pertanian ternyata tiba-tiba oleh pemilik lahan dijual sehingga beralih fungsi digunakan untuk pendirian bangunan atau yang lainnya. Sedangkan kehidupan mereka selama ini bergantung pada profesi tersebut. Tentunya ini tidak lepas dengan adanya dukungan dan ketegasan kebijakan oleh pemerintah untuk bisa mempertahankan lahan tersebut untuk menjadi lahan pertanian.

Untuk itu para petani yang trgabung dalam gapoktan tersebut merekomendasikan kepada dewan untuk bias memperjuangkan aspirasinya. Pertama, Adanya perbaikan saluran diusahakan dananya di setujui di APBD perubahan Kota Surakarta 2012. Kedua, adanya Kktegasan dukungan dari DPRD Kota Surakarta untuk tetap mempertahankan lahan pertanian yang ada agar tidak beralih fungsi.

Oleh : SULATRI

Rokhmad Munawir

lebih lanjut tentang beliau sila kunjungi blog pribadinya di Rerasan dari Dusun

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *