Pandangan Masyarakat Terhadap Anggota Dewan Periode 2004-2009

Banyak masyarakat yang sudah tahu bahwa untuk mendapatkan satu kursi di dewan itu sangat sulit. Berbagai macam yang digunakan orang untuk bisa mendapatkan kursi empuk tersebut. Entah itu berwujud pengorbanan harta, waktu, relasi dan sebagainya. Berbagai latar belakang yang mendorong seseorang untuk bisa masuk di dunia politik entah itu factor ekonomi dimana orang memandang bahwa dewan itu merupakan kursi yang memberi harapan bagi mereka untuk bisa lebih memperbaiki ekonomi. Berjuang mempertahankan keeksisan partai di daerah tersebut, bisa mendapatkan jabatan sehingga lebih bergensi dimuka public. Maupun memang didorong untuk semata-mata berjuang memperjuangkan aspirasi rakyat.
Terlepas dari berbagai dorongan yang menjadikan orang untuk mendapatkan kursi dewan, tetapi mungkin masyarakat tidak bisa semua mengenal bagaimana perjuangan mereka untuk memperjuangkan berbagai nasib rakyat di level kebijakan public. Saat memilih masyarakat sekedar menjalankan pemilihan umum sebagai rutinitas event yang diselenggarakan oleh Negara. Mereka memilih hanya sekedar memilih dan tidak tahu siapa sebenarnya siapa yang mereka pilih, kontribusi apa yang telah anggota dewan yang terpilih untuk diberikan kepada mereka. Meskipun semua masyarakat tidak berpandangan seperti itu. Ditengah masyarakat banyak yang memilih dengar sadar terhadap para caleg yang akan mereka pilih.
Sayangnya ketika seseorang sudah bisa duduk di kursi dewan mereka tidak semua bisa membawa aspirasi masyarakat yang mereka perjuangkan. Hal ini karena seringnya terjadi kegagapan dari para anggota dewan sendiri ketika mereka masuk ke gedung dewan. Mereka tidak tahu hal apa yang harus mereka lakukan. Kadang seorang dewan yang sudah tidak paham akan kewajiban dan kerja-kerja yang seharusnya bisa ia lakukan. Ia juga tidak mau belajar kepada civil society organizations (CSO) maupun para tokoh masyarakat maupun akademisi yang sudah lama mendampingi masyarakat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.
Akhirnya banyak keputusan-keputusan yang menyangkut kebijakan public yang mereka bisa kritisi hanya terlewatkan begitu saja. Belum lagi kadang seorang yang terpilih menjadi anggota dewan hanya rebut mengurusi bagaimana mendapatkan dana kembali dari dana yang telah mereka keluarkan saat mencalonkan diri menjadi anggota legislative. Belum kesibukan dari partai yang telah membawa mereka bisa menduduki kursi dewan. Akhirnya berbagai keputusan yang justru tidak memperjuangkan aspirasi masyarakat digedok dengan mudahnya. Kalau sudah begini dimana fungsi control dewan dalam pemerintahan?
Meski tidak semua dewan tidak mau terjun ke masyarakat dan hanya mau tampil di forum-forum public yang bisa mentenarkan dirinya, atau bahkan hanya mau turun saat akan diadakan pemilu saja, akan tetapi dalam periode ini banyak juga anggota dewan yang bisa menguasai persoalan kebijakan public justru menjadi bulan-bulanan limpahan berbagai kerja dewan kepada mereka. Ini tidak lepas dikarenakan tidak semua anggota dewan kompeten dengan kedudukannya. Akhirnya pembagian jobnya tidak merata.

Harapan masyarakat terhadap anggota dewan yang akan datang

Maka dari itu para anggota dewan yang terpilih nantinya diharapkan lebih bisa membawa aspirasi masyarakat dalam kebijakan public hingga sampai dalam bentuk-bentuk keputusan. Untuk membawa aspirasi tersebut maka dewan diharapkan mau terjun ke tengah masyarakat sehingga lebih paham dengan berbagai persoalan yang ditemui ditengah masyarakat. Dewan juga diharapkan mau belajar untuk bisa mengeluarkan kerja-kerja yang lebih mengangkat rakyat. Jika memang tidak menguasai akan masalah yang dihadapi maka jangan gengsi untuk melakukan belajar dengan berbagai stakheholder yang memang mendukung kinerja dewan agar lebih baik.
Anggota dewan juga diharapkan tidak hanya sibuk dipersoalan internal partai semata. Mereka itu sudah terpilih menjadi anggota dewan maka yang dipikirkan bukan hanya urusan internal partai apalagi persoalan pribadi semata. Yang harus mereka perjuangkan itu adalah aspirasi masyarakat banyak bukan hanya dari partainya semata. Jangan hanya mengiya-iyakan saja berbagai kebijakan yang akan diambil oleh eksekutif jika hal itu tidak mendungkung rakyat kecil. Anggota dewan diharapkan terus menerus terjun menggali aspirasi masyarakat sepanjang masa jabatannya. Jangan hanya mengobral janji saja saat kampanye, saat ini perlu disadari oleh para anggota dewan bahwa masyarakat juga semakin kritis terhadap berbagai persoalan kebijakan public. Maka sekali lagi menjadi anggota dewan jangan malas untuk belajar biar lebih memahami dan menguasai berbagai amanah yang dipikulnya.


Oleh: Latri
Pegiat Pattiro Surakarta

Download PDF

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *