Hari ini digelar ”Musrenbangkot harus dikawal!”

Pasar Kliwon (Espos)
Edisi : 3/27/2010, Hal.II
Elemen masyarakat diminta mengawal perjalanan musyawarah rencana pembangunan kota (Musrenbangkot) Solo yang digelar hari ini, Sabtu (27/3) di Pendapi Gede Balaikota Solo.
Program-program yang telah diusung dalam Musrenbangkot juga terus dikawal hingga sampai ke tingkat penganggaran di legislatif.
“Bukan saatnya masyarakat mempertanyakan terus. Namun, sudah saatnya menuntut dan mengawal aspirasi rakyat,” tegas Sekjen Forum Komunikasi Komunitas (Fokkus) Difabel, Rohmat Wahyudi saat ditemui Espos di ruang kerjanya, Jumat (26/3).
Menurut Wahyudi, tanpa pengawalan masyarakat, maka aspirasi yang digali dengan susah payah itu bisa jadi hanya masuk tong sampah. Pasalnya, tegas Wahyudi, tingkat persaingan dan ‘makelar’ proyek titipan di lingkungan SKPD dan elit banyak yang bermain tanpa melihat secara langsung usulan yang mencuat pada Musrenbang. “Misalnya pembangunan pasar Pasar Kliwon. Sudah jelas-jelas masuk dalam Musrenbangkot tahun 2007 beserta budget anggarannya, tiba-tiba raib tanpa kejelasannya hingga sekarang,” paparnya.
Pengawalan tersebut, kata Wahyudi, juga harus terus dilakukan hingga masuk pada tim penganggaran di legislatif. Jika hingga tahap sinkronisasi ternyata banyak usulan warga yang terbuang, kata dia, maka warga berhak menuntut penjelasan alasannya. “Kita bukannya tak lagi percaya kepada wakil rakyat di sana. Namun, kita akan terus kawal Musrenbang sampai kapan pun,” tegasnya.
Sementara itu, Program Manajer Pattiro, Setyo Dwi Herwanto mengungkapkan, sebelum Musrenbangkot digelar semestinya Pemkot memaparkan dahulu rencana-rencana usulan untuk diberikan kepada peserta. Langkah tersebut agar masyarakat bisa mempelajari terlebih dahulu program-program apa saja yang akan dibahas. “Soalnya, sekitar 60% dana APBD itu telah masuk ke pos-pos yang sudah menjadi rutinitas tahunan, termasuk gaji pegawai, biaya pemeliharaan aset dan lain sebagainya. Nah, sisanya itu baru untuk mengkover Musrenbang,” paparnya.
Penjelasan demikian, kata Setyo, sangat diperlukan agar tak membuat pembahasan Musrenbang bertele-tele dan mengulang-ulang. Akibatnya, tingkat kualitas dan partisipasi warga dalam mengawal Musrenbang memasuki titik jenuh. “Karena, warga merasa tiap tahun usulan tersebut terus keluar, namun bertanya-tanya kok belum ada realisasinya.” – –

Source:
http://edisicetak.solopos.co.id/sp_search_detail_tamu.asp?id=61310

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *