Menjadi Kartini di Era Modern

Tentu masih teringat jelas dibenak kita pelajaran ketika duduk di Sekolah Dasar dahulu tentang seorang tokoh perempuan sekaligus pahlawan nasional yang diperingati setiap tanggal lahirnya sebagai upacara ataupun peragaaan busana daerah oleh para siswa. Siapa lagi kalau bukan Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Beliau meninggal pada tanggal 17 September 1904.

Sudah lebih dari satu abad beliau meninggalkan alam dunia namun berbagai nilai perjuangan beliau masih bisa kita jadikan pelajaran bagi kaum perempuan itu sendiri maupun laki-laki. Di masa hidup beliau dimana budaya saat itu masih sangat mendiskriminasikan perempuan namun beliau dengan semangat berusaha mengangkat derajat perempuan agar bisa maju sejajar dengan laki-laki.

Salah satu hal yang kita perlu kita teladani dari beliau adalah bagaimana meningkatkan pendidikan kaum perempuan yang saat itu masih sangat terlihat jauh tertinggal dibandingkan dengan kaum laki-laki. Tak heran karena budaya yang menjadikan perempuan sebagai konco wingking memang sangat kental di masyarakat, sehingga membuat seorang perempuan menjadi terbelakang.

Kondidi zaman RA Kartini jika kita bandingkan dengan era saat ini tentunya sangat berbeda. Saat ini perempuan yang memiliki pendidikan tinggi tersebar dimana-mana. Banyak jabatan-jabatan strategis yang diampu oleh perempuan. Aturan yang terlalu mengekang perempuan untuk keluar rumahpun saat ini sudah begitu longgar.

Perempuan yang bisa memanfaatkan peluang-peluang untuk memajukan dirinyapun sangat ini lebih terbuka. Kaum laki-lakipun sudah banyak yang menghargai dan memberi peluang perempuan untuk bisa lebih maju. Namun kondisi kemajuan pendidikan perempuan saat ini bukan menjadi jaminan bisa dikatakan bahwa perempuan sudah bisa mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Banyak sekali budaya patriarki yang masih kita jumpai menghalangi perempuan untuk berkiprah di dunia publik. Dan hal ini mungkin ada di institusi kita bahkan keluarga kita.

Kalau mungkin zamannya RA Kartini dengan meningkatnya pendidikan perempuan setara dengan laki-laki itu sudah bisa menjadi pahlawan bagi lingkungannya. Saat ini justru tantangan yang harus dihadapi seorang perempuan untuk menjadi Kartini di era modern tantangannya lebih dasyat lagi.

Untuk menjadi Kartini didunia modern perempuan juga harus membekali dirinya dengan berbagai keahlian dan pendidikan sesuai dengan tuntutan zaman. Sifat pantang menyerah dan terus berusaha memajukan dirinya juga sangat-sangatlah perlu dikembangkan untuk bisa menjadi perempuan hebat.

Sebenarnya siapa yang dimaksud perempuan hebat itu? Perempuan hebat adalah perempuan yang mampu menompang atau menyangga keluarganya dalam cinta dan kebahagiaaan, sehingga menjadi keluarga yang kuat.

Jadi jangan berpikir bahwa hanya seorang perempuan yang sudah bisa bekerja di kantoran atau sebuah institusi di luar rumah saja yang termasuk perempuan hebat. Seorang ibu rumah tangga yang tinggal dirumah rela berkorban untuk keluarganya dan mampu menompang atau menyangga keluarganya dalam cinta dan kebahagiaaan, sehingga menjadi keluarga yang kuat juga termasuk didalamnya.

Seorang suami bisa berkarir hebat di kursi jabatannya itu juga tidak lepas dari dukungan dan pengorbanan pasangannya dan sebaliknya. Maka biarpun kita ditakdirkan lahir sebagai perempuan jangan jadikan alasan bahwa kita (perempuan) itu hanyalah mahkluk nomor dua di berbagai aspek kehidupan yng tidak bisa berbuat apa-apa untuk lingkungan sekitar kita.

Memang perempuan itu diberi karunia sensitif dan mudah menangis. Tapi bukan berarti itu menjadi titik lemah dari perempuan. Justru hal itu merupakan kelebihan perempuan yang tiada bandingnya. Penulis masing ingat catatan dari teman penulis yang lupa sumber kutipannya yang mengatakan bahwa:

“Kala kehidupan memberi seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa perempuan mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum. Menikmati setiap detik waktu dan mengakhiri kelelahan dalam menghadapi sesuatu dengan keikhlasan. Kala hati kita tidak tenang maka lakukanlah apa yg bisa membuat hati orang lain menjadi tenang, karena indahnya hidup bukan dikarenakan seberapa banyak orang mengenal kita tetapi seberapa banyak orang bisa bahagia karena kita…”

Berikut ini juga merupakan kutipan persembahan seorang anak pada ibunya yang penulis tidak tahu sumber kutipannya.

Seorang anak bertanya pada Tuhannya “mengapa ibuku suka menangis?”
Tuhanpun lalu menjawab:
Aku ciptakan ibumu sebagai makluk istimewa
Aku kuatkan bahunya, untuk menyangga anak-anaknya
Aku lembutkan hatinya, untuk memberi rasa aman
Aku beri rasa peka, agar mencintai putra-putrinya dalam keadaaan apapun
Aku kuatkan batinnya, untuk tetap menyanyangi meskipun disakiti putra-putrinya
Bahkan olehnya suaminya sekalipun.
Ibumu adalah mahkluk yang kuat
Jika ia menangis airmatanya akan membasuh luka batin sekaligus memberinya kekuatan baru.

Hal diatas menggambarkan betapa kuat dan mulianya seorang perempuan. Maka sekali lagi jika kita ingin menjadi Kartini di era modern usahakan kita sebagai perempuan itu bisa bermanfaat baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar kita. Mari teruskan perjuangkan cita-cita RA Kartini dengan berusaha membuka peluang-peluang positif dimana kita bisa berjuang didalamnya. Selamat berjuang para Kartini-Kartini baru!

Oleh : Sulatri (Pegiat PATTIRO Surakarta)

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *