Menimbang kualitas Pilkada tahun 2010

Sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun ini akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (Pilkada). Kalau kita amati, Pilkada di Indonesia dipengaruhi oleh tiga jenis budaya politik dalam bentuk variasi dan orientasinya.
Pertama, budaya politik parokial (parochial). Kedua, budaya politik subjek, dan ketiga, budaya politik partisipan. Dalam budaya politik parochial, pilihan politik berdasarkan situasi sosial yang hadir pada saat pemilihan itu. Pemilih tidak mampu mengorientasikan diri mereka pada sistem politik. Dan pilihan politik yang ada sifatnya terdiferensiasi. Pemilih mendasarkan pada keyakinan yang ada pada waktu itu, sehingga pemilih tidak bersandarkan pada substansi yang disodorkan. Keyakinan pemilih dalam hal ini dapat berupa keyakinan agama, profesi, atau sosial kultural (misalnya kandidat orang lokal atau tidak).
Sementara pada politik subjek, pemilih bersandarkan pada sikap turun-temurun yang dianut oleh sebuah keluarga, kelompok etnik, kelompok geografis, kelompok ekonomi dan sejenisnya. Sikap pemilih dalam hal ini telah menjadi tradisi politik yang statis sebagai reduplikasi dari masa lalunya. Sama halnya dengan budaya parokial, budaya politik ini ditandai dengan ketiadaan orientasi terhadap diri sebagai partisipan dalam suatu proses politik.
Dan yang terakhir, budaya politik partisipan, ditandai oleh adanya orientasi tidak hanya terhadap sistem politik yang terdiferensiasi secara struktural, tetapi juga terhadap sisi substansi pemilihan, kepentingan pemilih dari sistem bersangkutan dan terhadap dirinya sebagai partisipan aktif.
Perilaku politik dan budaya kewargaan mengandung dua variabel yang penting, pertama, variabel citizenship (citizenship variable) dan kedua, variabel culture (culture variable). Variabel citizenship adalah aspek di dalam diri pemilih, untuk membedakan dengan aspek culture yang berada di luar diri pemilih.
Aspek citizenship ini akan menggali kepentingan (lapangan kerja, pendidikan, akuntabilitas, pemerintahan yang baik), kebutuhan (pangan, perumahan, air bersih, listrik, jalan, taman kota, infrastruktur) dan perilaku pemilih yang bersumber dari persepsi, cita-cita, keyakinan, dan pengetahuan yang mempengaruhi dirinya terlibat dalam partisipasi politik. Secara kontras dibedakan dengan aspek culture, di mana partisipasi politik lebih disebabkan oleh faktor kelompok agama, etnis, geografis, golongan, kultur masyarakat, kampanye organisasi massa, partai politik dan pengaruh lainnya yang bersifat di luar diri pemilih.
Aspek citizenship ini akan menjelaskan dorongan yang ada dalam diri pemilih untuk memilih kandidat. Menggali aspek citizenship pada Pilkada memberikan gambaran sejauh mana kesadaran diri pemilih berinteraksi dengan pilihannya. Berapa besar kemandirian pemilih dalam memutuskan pilihannya. Seberapa jauh pemilih memahami tentang apa perlunya atau apa kepentingannya pada Pilkada.
Menggali aspek citizenship pada Pilkada akan memberikan keuntungan bagi pemilih, terutama menyangkut apa model edukasi yang akan dilakukan untuk memperkuat aspek citizenship pemilih. Ini juga akan memberikan umpan balik bagi kandidat untuk tidak menggunakan strategi culture pada pelaksanaan kampanye.
Pemilih yang terlalu terdorong oleh aspek culture pada Pilkada akan membuat pemilihan menjadi tidak berkualitas. Di samping itu, karena pertumbuhan kesadaran masyarakan yang makin baik di jangka panjang, aspek culture pada Pilkada akan mengakibatkan turunnya tingkat partisipasi pemilih, setelah pemilih merasakan kurangnya manfaat Pilkada terhadap dirinya pribadi.
Aspek citizenship akan memiliki pengaruh positif bagi stabilitas demokrasi. Bertambah besar pemahaman terhadap aspek citizenship akan memberikan tingkat stabilitas dan konsolidasi demokrasi terutama bagi negara yang baru menerapkan sistem demokrasi. Aspek citizenship akan menerangkan kinerja demokrasi yang sebenarnya.
Dalam konteks kesadaran politik, semakin sering dilaksanakannya pemilihan umum, semestinya bagi warga pemilih aspek citizenship ini menjadi bahasa dan perilaku pemilih ketika akan menentukan pilihannya, sehingga akan terlihat potret kualitas Pilkada yang akan dihasilkan. Akan tetapi kalau kita melihat realitas perilaku pemilih seolah-olah membenarkan bahwa potret hasil Pilkada yang kali kedua ini masih cenderung dalam kategori aspek culture yang berada di luar diri pemilih.
Meskipun demikian, aspek culture yang menjadi mainstream dan perilaku pemilih, kita tetap berharap hasil Pilkada menghasilkan pemimpin yang jujur, amanah dan berkualitas serta besar keberpihakannya atas persoalan yang dihadapi oleh rakyat.
Ditulis Oleh :
Alif Basuki (Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Surakarta)
Dimuat di :
http://edisicetak.solopos.co.id/sp_search_detail_tamu.asp?id=62887

Rokhmad Munawir

lebih lanjut tentang beliau sila kunjungi blog pribadinya di Rerasan dari Dusun

You may also like...

2 Responses

  1. apa yang saya cari, terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *