Mencermati Sistem Transportasi Kota Surakarta

Kota Surakarta atau sering disebut kota Solo tergolong dalam secondary city atau kota kelas menengah yang terus berkembang, bahkan tidak lebih dari satu dasawarsa kedepan kota ini akan menjadi kota metropolitan. Perkembangan kota Solo sampai saat ini dapat dikatakan cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun terus meningkat, setidaknya jika kita tengok sejak tragedi ’98 yang memporak-porandakan perekonomian kota Surakarta sampai pada titik nadir.

Kini setelah 12 tahun berlalu, situasi ekonomi kota Surakarta bukan hanya pulih seperti sediakala, namun semakin melesat. Bagaimana tidak, pada 1998 pasca kerusuhan tersebut pertumbuhan ekonomi kota Surakarta bahkan mencapai mencapai minus, setidaknya ini dibuktikan dengan tingkat PDRB kota Surakarta yang mencapai angka minus 13%. Namun, dalam waktu kurang dari satu dasawarsa telah terjadi pertumbuhan yang pelan namun pasti seiring membaiknya iklim investasi. Bahkan kota Solo kini menjadi barometer pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, selain Kota Semarang.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat tersebut membawa konsekuensi logis terhadap sistem dan pola transportasi kota serta dampak lingkungan hidup. Jelas akan ada peningkatan traffic kendaraan bermotor. Sebab hampir dipastikan gerakan roda ekonomi selalu diiringi dengan pergerakan manusia dalam distribusi barang dan jasa. Maka menjadi hal wajar, jika saat ini kota Solo telah berubah menjadi sebuah kota yang cukup macet meski masih pada kawasan-kawasan tertentu dan pada jam-jam tertentu, disamping pencemaran lingkungan yang juga meningkat.

Keadaan saat ini jelas mencerminkan kondisi Solo kedepan. Sebab bukan tidak mungkin, kurang dari lima tahun kedepan kota Solo akan menjadi cukup macet seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan kendaraan bermotor yang seolah menjadi tanda kemakmuran dan meningkatnya perekonomian di sebuah kawasan. Hal ini harus disadari bersama segenap kalangan di Kota Solo.

Mengantisipasi ancaman kemacetan tersebut maka sejak saat ini sudah harus mulai digagas dan dirancang mengenai sebuah sistem atau manajemen transportasi di kota Solo ini. Sebab kenaikan jumlah kendaraan bermotor tidak seimbang dengan pertumbuhan volume jalan, maka sangat wajar jika terjadi kemacetan. Artinya, kota Solo harus mulai berbenah dengan membuat sebuah gebrakan mengenai sistem manajemen transportasinya.

Harus ada inovasi dalam tatanan sistem transportasi baik dari sisi teknologi dan kebijakan pemerintah daerahnya. Perlu dilakukan perbaikan struktur biaya dan upaya efisiensi juga harus dilakukan dengan tanpa mengorbankan aspek keselamatan harus menjadi paradigma bersama antara pemerintah daerah dan sektor swasta penyedia jasa layanan transportasi serta masyarakat secara luas. Semua memang tidak serta merta dapat diterapkan bagaikan membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang cukup agar benar-benar implementatif dan bermanfaat. Harus dikaji dan dipelajari secara seksama dengan melibatkan berbagai pihak.

Sustainable Transportation?

Sustainable transportation atau Sistem Transportasi Berkelanjutan adalah salah satu upaya inovasi dalam mengatasi masalah sistem transportasi di banyak kota, termasuk Kota Solo. Bahkan jika kota Solo berhasil menggagas dan menerapkan pola ini dalam lima tahun kedepan maka akan menjadi kota pertama di Indonesia yang menerapkan sistem transportasi berkelanjutan.

Sebenarnya apakah sustainable transportation atau sistem transportasi berkelanjutan itu? Jika merujuk pada beberapa literatur yang ada, sistem transportasi berkelanjutan dikatakan sebagai suatu sistem transportasi yang mengakomodasi aksesibilitas semaksimal mungkin dengan dampak negatif yang seminimal mungkin. Bukan sekedar alat transportasi yang dijalankan dalam waktu dekat akan tetapi juga harus mempunyai dampak yang paling minimal di masa depan.
Artinya, ini merupakan sebuah sistem manajemen transportasi yang lebih mengedepankan sisi humanisme dan berwawasan lingkungan. Sebab sistem manajemen transportasi ini bersandarkan pada tiga komponen penting yang harus mampu diimplementasi dan diejawantahkan secara komprehensif. Tiga komponen penting itu adalah aspek aksesiblitas, kesetaraan dan dampak lingkungan.

Dimana, upaya aksesibilitas harus diejawantahkan melalui kematangan konsep pada tingkat perencanaan mengenai jaringan transportasi dan keragaman jenis alat angkutan dengan tingkat integrasi tinggi antara satu dengan yang lain. Sementara disisi lain, upaya kesetaraan dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan transportasi yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Meskipun tetap memperhatikan persaingan bisnis yang sehat. Ini setidaknya dapat dilakukan dengan pembagian penggunaan ruang-ruang dan pemanfaatan infrastruktur secara adil dan transparan serta partisipatif dalam setiap pengambilan kebijakan. Sehingga akan diperoleh sebuah keadilan dalam masyarakat.

Penggunaan energi ramah lingkungan adalah salah satu upaya mewujudkan keramahan pada lingkungan. Disamping itu pemilihan penggunaan jenis alat angkutan yang paling minim dalam menimbulkan polusi juga harus menjadi pertimbangan dengan tetap memprioritaskan aspek keselamatan pengguna.

Sistem transportasi berkelanjutan memang harus dipikirkan secara matang dan membutuhkan konsep yang kuat serta membumi dan mampu menjadi sebuah parameter mengenai arah dan strategi transportasi masa depan. Sebagaimana diisyaratkan oleh Prof. Danang Parikesit (ahli masalah transportasi yang juga guru besar UGM) bahwa sistem transportasi kita harus mampu menjadi wahana untuk membawa Indonesia menjadi maju dan sejahtera. Artinya mampu meningkatkan daya saing bangsa melalui efisiensi sistem distribusi barang dan jasa serta berkeadilan bagi masyarakat dan juga generasi mendatang.

Harus diakui bersama, bahwa sistem ini akan lebih mudah terwujud pada sistem transportasi dengan basis angkutan umum jika dibandingkan dengan sistem transportasi yang berbasis angkutan (kendaraan) pribadi. Sehingga, pemerintah memang harus berupaya maksimal dalam memperbaiki sistem angkutan umum yang bersifat massal. Perbaikan sistem angkutan umum ini diharapkan mampu mempengaruhi pola dan perilaku masyarakat untuk beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi angkutan umum.

Pola perilaku masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi memang tidak dapat disalahkan. Sebab harus diakui bersama bahwa saat ini angkutan umum kita ibarat monster yang menakutkan bagi konsumen. Tidak aman, tidak nyaman dan tidak tepat waktu adalah perilaku yang terjadi dengan angkutan umum kita saat ini. Hal itu harus berubah jika memang ingin konsumen beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Bahwa angkutan umum itu aman, nyaman, tepat waktu serta terintegrasi tinggi satu dengan yang lain dan aksesibel bagi segenap kalangan masyarakat adalah prasyarat yang harus dipenuhi.

Disamping itu biaya perjalanan dengan angkutan umum harus ditekan sedemikian rupa sehingga terjangkau dan masyarakat menjadi lebih memilih menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Bahwa perilaku masyarakat selama ini lebih memilih kendaraan pribadi sebab biaya yang harus dikeluarkan lebih ringan daripada menggunakan angkutan umum. Ini harus diakui bersama dan harus menjadi salah satu prasyarat jika ingin mengubah perilaku masyarakat kita.
Meskipun tidak menutup kemungkinan diterapkan pada sistem dengan berbasis kendaraan pribadi. Dan ini tentunya harus dilakukan kajian secara mendalam.

Oleh Rokhmad Munawir
Staff Program Pattiro Surakarta

http://kaumbiasa.com

Rokhmad Munawir

lebih lanjut tentang beliau sila kunjungi blog pribadinya di Rerasan dari Dusun

You may also like...

2 Responses

  1. nino says:

    Mari mendiskusikan masalah transportasi kota dengan lebih cerdas. Baca juga : http://ninohistiraludin.blogspot.com/2011/02/peluncuran-bus-tingkat-dan-railbus-solo.html

    Salam

    Nino

  2. Prameswaribayuoktaviani says:

    artikelnya membantu sekali…terimakasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *