Memprihatinkan, generasi tak paham sejarah bangsa

Kalangan budayawan dan sejarawan memprihatinkan banyaknya generasi muda yang terputus dari sejarah bangsanya. Hal inilah yang dirasa kian menambah beban berat sebuah bangsa untuk keluar dari keterpurukan.
“Bagaimana pun juga, kita musti banyak belajar dari sejarah masa lalu untuk bersama-sama membangun bangsa,” kata budayawan Halim HD dalam ajang diskusi Dari Yang Dibuang dan Dibungkam di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo, Jumat (2/7) malam.
Diskusi yang dihari belasan korban kekerasan politik Orde Baru (Orba) itu juga dihadiri sastrawan muda Fahrudin Nasrulloh dari Jombang, Fanny Chotimah dari Komunitas Sastra Pawon Solo, pegiat LSM Pattiro, Setyo Dwi Herwanto.
Sejumlah korban politik Orba mengaku bahwa sejarah bangsa yang termamah generasi saat ini tak sepi dari pembelokan fakta. Sejarah kala itu, tegas mereka, telah menjadi alat bagi penguasa dalam membungkam kebenaran.
“Sehingga, kami-kami yang ditahan, dibuang, dan disiksa oleh pemerintahan Orba harus bungkam dan dicap sebagai pembangkang negara,” kata salah satu korban tahanan politik Orba, Martono HS.
Kini, di era reformasi, Martono hanya bisa menyaksikan generasi-generasi muda yang ahistoris dengan sejarah bangsanya. Pihaknya, sebagai warga yang kala itu telah dicabut hak-hak politik dan pendidikannya, lanjut Martono, kini juga terbentur dengan keterbatasan lantaran tak memiliki daya dan kekuatan untuk meluruskan sejarah.
“Kami ini bukan sastrawan atau orang yang pandai menulis. Kami hanya bisa bersaksi dan bercerita kejadian masa lalu lewat tutur,” paparnya.
Menanggapi hal itu, Halim HD mengusulkan sudah saatnya generasi muda sekarang memulai untuk menulis sejarah bangsa dari pengakuan-pengakuan para pelaku sejarah. “Langkah ini harus dimulai agar sejarah ini kembali diluruskan,” paparnya.
Keterputusan sejarah itu, di mata Fahrudin Nasrulloh, juga tak bisa dilepaskan begitu saja dari kompleksnya persoalan zaman saat ini. Karya teknologi berupa Facebook misalnya, di mata Fahrudin, juga tak sedikit yang menggeser ruang-ruang diskusi menjadi ruang ekslusif, individual, picik, dan jumud. “Kalau pun melahirkan tulisan, hanyalah tulisan picisan, remeh temeh, dan penuh angan-angan diri tanpa memiliki akar sejarah,” paparnya. – Aries Susanto-SOLOPOS

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *