Kurang, pengendalian pencemaran

Edisi : 8/19/2009, Hal.II

Balaikota (Espos)
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dinilai kurang dalam mengendalikan pencemaran lingkungan hidup.
Kekurangan tersebut bisa dilihat dari hampir tidak adanya publikasi mengenai hasil penelitian tingkat pencemaran yang dilakukan kepada masyarakat. Padahal informasi mengenai tingkat pencemaran lingkungan itu sangat penting agar masyarakat juga bisa ikut melakukan antisipasi. Demikian pula dengan para pemilik pabrik agar bisa mengendalikan buangan limbahnya.
Direktur Program Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Solo, Setyo Dwi Herwanto, saat ditemui wartawan di kompleks Balaikota Solo, Selasa (18/8), mengungkapkan, tidak banyak masyarakat yang tahu seberapa tinggi tingkat pencemaran udara di Solo. Masih amankah untuk kesehatan? Seberapa parah pencemaran tanah dan air di Solo dan sebagainya. Mestinya, kata Setyo, informasi-informasi semacam itu dipublikasikan secara rutin, agar masyarakat tahu dan perlahan-lahan akan timbul kesadaran untuk ikut mencegah pencemaran lebih lanjut.
”Pengendalian pecemaran itu tidak sebatas menggerakkan penghijauan, penanaman pohon, tamanisasi dan lain sebagainya. Tapi yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah pencemaran itu, dan kesadaran itu bisa timbul kalau masyarakat tahu kondisi pencemaran di kotanya,” jelas Setyo.
Saran terbatas
Sementara itu, saat Espos secara terpisah menemui secara terpisah Kepala BLH, Supono didampingi Staf Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Solo, Edy Suparmanto, terungkap bahwa berdasarkan hasil pengamatan kualitas udara ambient di 10 titik padat lalu lintas di Kota Solo tahun 2008 lalu, tingkat pencemaran udara di Kota Solo masih relatif rendah. Dari 10 titik pada lalu lintas tersebut, baik kandungan Nitrogen dioksida (NO2), Sulfur dioksida (SO2) maupun O3, masih di bawah baku mutu.
”Misalnya dari baku mutu NO2 sebesar 316 mikrogram/meter kubik, tingkat pencemaran paling tinggi dari 10 titik itu adalah di Perempatan Jajar sebesar 48,882 mikrogram/meter kubik. Sedangkan dari baku mutu O3 sebesar 200 mikrogram/meter kubik, tingkat pencemaran paling tinggi juga di Perempatan Jajar sebesar 141,612 mikrogram/meter kubik,” jelas Edy.
Dia menambahkan, mengenai tingkat pencemaran berupa kandungan karbon monoksida (CO), pihaknya belum bisa membuat penelitian karena keterbatasan sarana dan peralatan. Mengenai langkah antisipasi agar pencemaran itu tidak bertambah parah, pihaknya terus menggalakkan penanaman pohon melalui berbagai program.
Sejak dicanangkannya hari menanam pohon sedunia tahun 2008 lalu, hingga saat ini sudah ada lebih dari 200.000 batang pohon yang ditanam di Solo. ”Untuk membuat hutan kota di Solo agak sulit karena hutan kota yang bisa diatur dalam kebijakan memerlukan lahan minimal seperempat hektare. Sedangkan di Solo sulit menemukan tanah seluas itu untuk hutan kota,” tambah Supono. – Suharsih

Source:
http://www.solopos.co.id/sp_search_detail_tamu.asp?id=281523

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *