Kinerja Komite Sekolah di Surakarta Dipertanyakan?

Sungguh ramai para peserta yang mempertanyakan kinerja Komite Sekolah dalam diskusi yang tergabung dalam forum MPPS (Masyarakat Peduli Pendidikan Surakarta) yang diselenggarakan di Pattiro Surakarta, Kamis (3/3/2011). “Komite Sekolah di Solo itu masih banyak yang hanya menjadi stempel Sekolah dan belum bisa melaksanakan tugasnya dengan baik”, ungkap Ibu CA Sri Jayanti dari WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia).

gambar ilustrasi dari google

Akibatnya salah satu peran komite sekolah yang diharapkan bisa menjembatani komunikasi pihak sekolah dan orang tua siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan yang bisa dipecahkan bersama terlewatkan begitu saja. Pada akhirnya banyak orang tua siswa yang tidak bisa menyalurkan aspirasi terkait dengan kebijakan sekolah, hanya bisa menggerutu karena banyak orang tua yang tidak tahu kepada siapa mereka bisa mengadu.

Sedang pihak sekolah sendiri terus saja dengan santai menjalankan kebijakan-kebijakannya meski kadang membebani orang tua siswa. “Di Kota Solo Komite Sekolah sering masih hanya mengambil orang-orang yang dari kalangan yang pro-sekolah sehingga mereka kurang bisa bertindak kritis terhadap kebijakan sekolah yang seharusnya dikritisi. Belum lagi jika pengurus komite sekolah yang ditunjuk tidak aktif, tentu juga sangat berpengaruh terhadap kinerja Komite Sekolah ”, jelas Putri dari LEKHAMNAS Aisyiah Surakarta yang juga menjadi salah satu Komite Sekolah di Solo.

Pernyataan yang hampir sama juga diberikan oloh Pardoyo yang selain merupakan anggota Komite Sekolah sekaligus juga adalah Pengurus Dewan Pendidikan Surakarta. Menurutnya pada awal adanya pelaksanaan Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah), Dewan Pendidikan Surakarta pernah mengadakan training untuk Komite Sekolah yang bertujuan apabila seseorang menjadi anggota dari Komite Sekolah dia menjadi aktif. Namun karena tidak ada dana untuk mengadakan training maka training untuk Komite Sekolah ini tidak ada lagi.

Untuk mensisati hal tersebut maka Dewan Pendidikan Surakarta mencoba membuat forum komunikasi Komite Sekolah agar kinerjanya bisa menjadi lebih baik. Forum tersebut terdiri dari Komite Sekolah Dasar di setiap kecamatan yang berada di Surakarta. Akan tetapi meskipun forum ini juga mendapat subsidi dana ternyata juga tidak berjalan dengan baik. “Pada akhirnya mungkin Komite Sekolah yang belum pernah mengkuti training tidak berfungsi dengan baik”, tambah Pardoyo.
Sebenarnya jika orang mau membaca sendiri apa tujuan dan fungsi Komite Sekolah tentu tidak akan kebingungan dan mengatakan tidak aktif akan tugasnya karena belum paham apa yang seharusnya dia kerjakan.

Menurut Kepmendiknas No: 044/U/2002, tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah:

Pertama, mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan. Kedua, meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Ketiga, menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.

Sedang fungsi Komite Sekolah yaitu:

  1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
  2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
  3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
  4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai kebijakan dan program pendidikan, rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS), kriteria kinerja satuan pendidikan, kriteria tenaga kependidikan.

Fungsi Komite Sekolah dalam peraturan yang sama (Kepmendiknas No: 044/U/2002) adalah sebagai berikut;

  1. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.
  2. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
  3. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.

Untuk itu agar dilema pendidikan tidak berlarut-larut maka Komite Sekolah diharapkan bisa tetap berperan aktif menyukseskan pendidikan di Kota Solo di samping lembaga-lembaga pemerhati pendidikan yang lainnya.

Oleh: Sulatri
Pegiat Pattiro Surakarta

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

2 Responses

  1. Neneng Nur Endah says:

    Semoga komite sekolah dapat berperan aktif membantu sekolah, terutama pengadaan sarana, seperti kita ketahui bersama dana BOS sangat terbatas. sehingga untuk dapat menjadikan sekolah yang unggul harus ditunjang oleh sarana yang memadia.Mengenai komite sekolah yang terjadi di kota Solo,saya kira bukan di Solo saja, dengan adanya dana BOS, seakan- akan komite sekolah tidak diperlukan lagi. padahal kami tetap sangat membutuhkan komite Sekolah sebagai jembatan antara sekolah, orangtua siswa dan masyarakat.

    • Irfan Hanafi says:

      Amin.. 🙂
      Seharusnya memang tujuan awal dari pembentukan komite sekolah adalah sebagai jembatan dari orang tua siswa, siswa dan sekolah, namun akhir-akhir ini fenomena komite sekolah menjadi sarang proyek semakin saja menjadi-jadi.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *