Ketika Menulis Menjadi “Momok”

Istilah “momok” merupakan satu istilah dari Bahasa Jawa yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang menakutkan atau yang jadi momok itu bukan hanya dari makluk alam gaib atau biasa disebut makluk halus tapi juga bisa berwujud benda disekitar kita dan berbagai hal yang membuat diri kita menjadi takut dan kita hindari.

Tapi sungguh memprihatinkan jika yang menjadi momok seseorang itu adalah menulis. Seperti menulis untuk di media misalnya. Entah itu di koran, majalah, bulletin, website dan media lain yang sifat tulisan tersebut bermaksud dipublikasikan. Ternyata banyak orang di Indonesia sering menjadikan menulis menjadi momok dalam kehidupannya. Masyarakat lebih suka mengaktualisasikan berbagai ide dan pikirannya dalam wujud kata bukan dalam bentuk tulisan.

Hal yang sangat disayangkan justru menulis menjadi momok itu juga menimpa orang-orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi seperti bangku kuliah. Banyak orang awam beranggapan bahwa seseorang jika sudah tatarannya bisa duduk di bangku perguruan tinggi itu bisa berkarya lebih terutama berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Tapi ternyata anggapan seperti itu tidak semua benar. Di sekitar kita banyak masyarakat yang sudah mengenyam pindidikan tinggi yang enggan menuangkan ide-ide dan gagasanya dalam bentuk tulisan.

Berbagai alasan dikemukakan untuk pembenaran mereka mengapa tidak mau menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Entah sibuk, bukan dunianya, tidak punya bakat menulis dan berbagai alasan yang kadang dibuat-buat.

image from applecopywriting.com

Seseorang jika terus-menerus hanya menjadikan tulisan sebagai momok tanpa ada usaha dari dirinya untuk berusaha bisa nantinya akan terpola seperti itu dalam kesehariannya. Menulis yang sebenarnya bisa dilatih dan dipelajari justru hanya akan menjadi hal yang berat dan hanya akan lewat dalam kehidupannya tanpa ada hasil karya tulisan yang bisa didokumentasikan dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan tiada terasa waktu terus berlalu hingga usia kita semakin bertambah tua.

Dalam ilmu sejarah bahwa suatu peradaban masa lampau itu dikatakan sebagai zaman sejarah salah satunya dikenali dengan peninggalan tulisan. Jadi kalau kita ini mengaku sebagai manusia bukan zaman pra sejarah alangkah baiknya jika kita itu juga sering berkarya dalam bentuk tulisan.

Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari berkarya lewat tulisan. Pertama adanya dokumentasi, orang lain bisa memanfaatkan karya tersebut tidak harus bertemu dengan penulis pada hari H, artinya bisa dibaca sepanjang waktu dan caranya lebih mudah. Kedua, adanya kontrol emosi yang lebih tertata lebih baik dibanding ketika mengungkapkan ide atau gagasan kita langsung dengan kata-kata baik oleh penulis maupun penerima pesan. Ketiga, Adanya publikasi gagasan-gagasan kita. Keempat, kita jadi rajin membaca atau belajar untuk bisa menciptakan karya yang lebih baik.

Sebenarnya manfaat menulis di media itu tidak jauh dari fungsi media massa seperti: pendidikan, publikasi, kontrol sosial, menciptakan adanya keseimbangan dan lain sebagainya.

Belajar Menulis

Untuk bisa kita aktif menghasilkan karya dalam bentuk tulisan itu butuh latihan. Memang pada awalnya seseorang bisa menulis itu ada yang mengatakan sangat berat. Tapi dengan latihan dan pengkondisian lingkungan entah dirumah atau tempat kerja kita nanti juga lama-kelamaan seseorang akan semakin mudah menuangkan ide-idenya dalam karya tulisan.

Pada tahap awal kita menulis diri kita tidak usah membandingkan hasil karya kita dengan seorang dosen atau wartawan yang sudah biasa menuangkan gagasanya dalam bentuk tulisan. Santai saja menulis apa yang ada dalam pikiran kita apa adanya. Sekecil apa hasil karya tulisan kita tentu akan bermanfaat bagi orang lain.

Perlu kita ingat bahwa menulis itu juga butuh proses, artinya untuk menghasilkan karya agar bisa lebih baik maka kita juga membutuhkan latihan terus-menerus. Dan jangan patah semangat ditengah jalan. Jika kebiasaan menulis sudah mulai muncul jika kita membutuhkan referensi silahkan belajar dari hasil karya orang lain untuk menambah kekayaan tentang hal apa yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan.

Hal yang perlu kita ingat bahwa jangan jadikan menulis sebagai momok dalam kehidupan kita. Ayo coba kita takhlukan ketakutan-ketakutan kita dalam soal menulis. Nah jika kita ini mengaku sebagai manusia hidup dizaman sejarah mari kita tinggalkan karya kita dalam bentuk tulisan. Mari menulis!


Oleh : Sulatri
Pegiat Pattiro Surakarta

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *