Ironi PKL : Penyumbang Terbesar Pelayanan Minim

Pedagang Kaki Lima atau PKL sering dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan, akan tetapi sektor PKL ini menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Surakarta sebesar 18,5 Milyar per tahun dan sumbangan dari PKL ini jauh lebih besar dari yang disumbangkan oleh hotel-hotel di Surakarta, begitulah data yang dipaparkan dalam Regular Meeting, Minggu (11\10) di Hotel Riyadi Palace yang dilaksanakan oleh Pusat Telaah Informasi Regional (PATTIRO) Surakarta yang dihadiri oleh beberapa kalangan antara lain warga NU dan beberapa Ormas lain. Keberadaan PKL di Kota Surakarta memang sangat memprihatinkan karena dari besaran sumbangan yang mereka berikan kepada PAD, PKL hanya mendapatkan 1% dari belanja APBD. Selain itu kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor informal ini juga mendapatkan sorotan dari para peserta diskusi, pemerintah selama ini hanya memperhatikan PKL dari aspek fisik saja seperti adanya relokasi dan pembuatan shelter-shelter namun dalam hal managerial dan pengelolaannya dinilai sangat kurang.
Dalam hal ini optimalisai Perda (Peraturan Daerah) Kota Surakarta No.3 Tahun 2008 juga perlu, karena Perda ini sangat berpengaruh terhadap sektor PKL. Dari diskusi ini juga diambil beberapa keputusan tentang upaya mendorong sektor PKL agar tidak selalu terpinggirkan. Antara lain membuat peta persebaran PKL yang bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi dan pertumbuhan PKL. Serta supaya Pemerintah Kota dapat mengetahui apa yang sebenarnya yang dibutuhkan PKL agar usahanya dapat maju.[singlepic id=214 w=320 h=240 float=right]
Hal tersebut muncul dikarenakan Pemerintah Kota Surakarta hanya terkonsentrasi pada PKL pada jalan-jalan utama seperti pada jalan Slamet Riyadi yang menjadi muka kota Surakarta. Potensi yang ada pada PKL jika dikemas secara menarik dapat dijadikan sebagai potensi ekonomi maupun potensi wisata. Dalam mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya promosi yang tepat, namun sebelum itu perlu adanya penataan secara menyeluruh terhadap PKL baik itu dari aspek fisik maupun manajemen. “Seperti Malioboro di kota Yogyakarta kita dapat meniru mereka dalam hal penataan PKL, dimana PKL disana dijadikan obyek wisata yang dapat menarik minat wisatawan” begitu dikatakan oleh Putri Usmawati selaku pendamping dalam acara ini.

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

6 Responses

  1. tegar says:

    sudah selayaknya PKL mendapatkan haknya yang sesuai dengan sumbangan mereka untuk PAD

  2. trickee says:

    Very shorts, simple and easy to understand, bet some more comments from your side would be great

  3. suparman says:

    budayakan pkl jangan perlakukan mereka sewenang2 by pkl bogor

    • Irfan says:

      @suparman, di kota solo PKL merupakan salah satu penyetor pajak terbesar. namun jatah untuk PKL sendiri masih sangat minim.
      terima kasih atas kunjungan dari PKL Bogor.. 😉 salam kenal..

  4. sevic says:

    tolong jgn cuma kritik pemkot, tapi bantu dengan saran2 yang membangun dan detail

    • Irfan says:

      🙂 kami juga sudah berusaha melakukan hal tersebut.. kami berusaha untuk tidak hanya sekedar bisa berkata dan mengkritik saja, namun kami juga berusaha untuk selalu memberikan masukan kepada pemkot. 🙂
      terima kasih atas saran maupun kritiknya.. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *