HIV-AIDS Makin Mencengkeram Surakarta

Sampai Desember 2010, penderita HIV AIDS di Kota Surakarta sebanyak 482 orang. Data tersebut berasal dari 2 Rumah Sakit yang melakukan pelayanan kesehatan HIV AIDS di Kota Surakarta, dan di-release oleh LSM SPEK-HAM. Sejumlah pihak juga masih kebingungan tentang konsep penanganan HIV AIDS yang akan diperankan oleh Dinas Keseahatan Kota Surakarta. Bahkan dari 10 Puskesmas yang telah dilakukan pelatihan, hanya 2 Puskesmas yang melaksanakan pelayanan bagi HIV AIDS. Persoalan yang sering ditemukan adalah kendala sumber daya manusia (SDM), jenis obat yang tidak tersedia, bahkan SDM pelayan belum menunjukkan sikap yang baik terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Demikian juga penguatan dari sisi masyarakat baru tahap pembentukan wadah namun desain program dan aktifitasnya belum mendapatkan perhatian serius. Yang sangat mengejutkan adalah tingkat infeksi 15% setiap bulan dialami oleh ibu rumah tangga, sedangkan pada PSK justru lebih rendah yakni 12% (Desember, 2010).

gambar dari google

Perumusan akar-akar persoalan dan usulan solusi permasalah kesehatan oleh komunitas adalah sebagai berikut. Atas persoalan tersebut; (1) Ketiadaan lokalisasi Pekerja Seksual di kota Surakarta yang telah berakibat para PSK menyebar, sehingga prostitusi berjalan secara liar, tidak bisa diorganisir dan tidak terkontrol perkembangan virusnya. (2) Adanya komunitas waria, gay pengguna jarum suntik (penasun) yang kurang terorganisir, berpotensi menyebarkan maupun ditularkan virus HIV. Komunitas mengusulkan agar Dinas Kesehatan melakukan pengorganisiran terhadap komunitas tersebut untuk dibina dan diberdayakan oleh pemerintah.

Akar persoalan kedua adalah masih kurangnya informasi dasar berkaitan IMS, HIV di masyarakat. Ketidaktahuan ini telah menyebabkan mereka tidak antisipatif sehingga menjadi korban penularan virus tersebut. Kunci dari persoalan ini adalah; (1) pemberian informasi/penguatan, penguatan informasi di masyarakat berkaitan dengan isu tersebut melalui media-media atau aktifitas kegiatan yang sudah ada dan terbentuk di masyarakat secara berkelanjutan dan dua arah, (2) memperkuat kader-kader yang sudah ada untuk mulai menjadi motor penggerak di komunitas. Sedangkan untuk memastikan ketersediaan informasi tersebut diusulkan: (a) KPA membuat kampanye media baik berupa kaset, gambar, baliho, pamflet, dan lain sebagainya; (b) Dinas Kesehatan Kota memfasilitasi Kegiatan penjangkauan untuk paparan informasi, kegiatan sportaiment, edutainment, kampanye media untuk masyarakat.

Akar persoalan ketiga adalah banyak infrastruktur/sarana umum seperti toilet, MCK yang tidak higienis sehingga menjadi salah satu faktor yang menunjang terhadap persoalah IMS dan HIV/ AIDS. Sejumlah tindakan yang perlu dilakukan adalah; (a) Paparan informasi kepada para pengelola sarana umum (WC/MCK) agar menjamin para pengguna secara aman dari bahaya IMS dan HIV; (b) Memastikan Peralatan perawatan WC/MCK yang aman dari bahaya IMS dan HIV; (c) Pelatihan dan penguatan bagi pengelola dan pegawai pada layanan umum yang beresiko mejadi tempat penularan.

Akar persoalan keempat adalah belum semua layanan kesehatan mampu memberikan layanan bagi HIV dan AIDS. Kendalanya menyangkut: ketersediaan SDM dan peralatan pendukung medis yang khususnya untuk ODHA. Setidaknya ada sejumlah kegiatan yang diusulkan; (a) memperbanyak akses layanan khususnya pada tahap konseling untuk IMS dah HIV, (b) Memperbanyak capacity building pada penyedia layanan (dokter, bidan) agar mampu melakukan pemeriksaan IMS maupun HIV, termasuk perilaku pelayanan agar mampu membangun empati pada pasien; serta (c) Penyediaan peralatan seperti peralatan medis (anuskopi, spikulum,alat cabut gigi) khususnya untuk odha.

Akar persoalan kelima adalah belum semua kebijakan/regulasi yang sudah ada mampu mendukung untuk tercapainya jaminan terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu komunitas mengusulkan; (a) Adanya Standard Operating Procedure (SOP) untuk fasilitas umum agar menjamin warganya dalam hal penularan IMS / HIV, serta (b) Peraturan di tingkat kota/maupun pada lokasi untuk penanganan prostitusi di kota Surakarta.

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *