Dari Pekan ASI Internasional Para Bayi itu pun Menuntut Susu Ibu

Kedatangan Kereta Api Prambanan Ekspres di Stasiun Solo Balapan, Selasa (4/8) kali ini terasa berbeda. Betapa tidak, kedatangan Prameks disambut delapan bayi jumbo di tepi peron.

Mengenakan popok dan tudung kepala, delapan bayi jumbo itu terus menangis. Mereka mengekspresikan kegelisahan menunggu kedatangan sang ibu, yang turun dari Prameks. Teriakan dan tangisan menjadi satu-satunya ekspresi bayi-bayi yang menginginkan air susu ibu (ASI) dari ibunda mereka.

Begitulah cara 50-an orang dari Yayasan Kakak dan Sanggar Wayang Suket, mengingatkan masyarakat untuk peduli dengan pentingnya ASI bagi bayi. Melalui kisah Joko Karna, anak Dewi Kunthi yang menanti kedatangan sang ibu demi mendapat ASI, masyarakat diharapkan sadar betapa pentingnya ASI bagi bayi.

Pertunjukan teater yang melibatkan dua seniman terkemuka, Slamet Gundono dan Milko tersebut mampu menarik perhatian para penumpang dan pengantar di Stasiun Solo Balapan. Apalagi aksi teatrikal dalam rangka pekan ASI internasional, 1-7 Agustus itu, diiringi sajian musik tradisional yang menghentak.

Slamet Gundono, ditemui wartawan seusai pertunjukan, Selasa, mengatakan pertunjukan yang disajikan merupakan bentuk ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan bayi dengan memberikan ASI eksklusif. Pemberian susu formula, kata dia, tidak dapat menggantikan fungsi ASI. Dari kisah Joko Karna, para ibu diharapkan belajar bahwa ASI tidak bisa digantikan susu lain, misalnya susu sapi.

Sebelumnya, Joko Karna diceritakan dibuang di Sungai Bengawan Solo dan ditemukan pasangan abdi dalem keraton yang tinggal di Semanggi, Pak Suto dan Mbok Suto. Karna menolak menerima susu sapi yang diberikan pasangan abdi dalem tersebut. Karna hanya menginginkan ASI dari Dewi Kunthi.

Pojok ASI

Manajer Program Griya Menyusui, Yayasan Kakak, Dinding Sugiyantoro mengatakan di samping mengingatkan pentingnya ASI, secara khusus pertunjukan yang mengambil latar belakang kesibukan aktivitas di stasiun dari Stasiun Klaten hingga Stasiun Balapan tersebut, hendak mengingatkan pihak-pihak terkait, khususnya Pemerintah, bahwa dalam kondisi sibuk, seorang ibu tetap harus memberikan ASI bagi sang anak. ”Pemerintah harus menyediakan pojok ASI di fasilitas publik, seperti stasiun, terminal dan kantor,” tegas Dinding.

Sementara di Klaten, jarum jam di Stasiun Kereta Api (KA) Klaten Daerah Operasi (Daops) VI, Yogyakarta menunjukkan pukul 16.00 WIB. Biasanya stasiun itu lengang, jarang terlihat banyak orang menanti kedatangan lokomotif berasap itu.

Namun, pada Selasa (4/8) kemarin, suasana mendadak menjadi cukup ramai. Banyak orang yang berkerumun di pojok timur stasiun. Dari kejauhan, tampak pula beberapa orang mengenakan atribut pewayangan.

Atribut pewayangan sengaja dipakai menjadi salah satu bagian dari rangkaian Pekan ASI Internasional kampanye inisiasi menyusui dini yang dilakukan oleh Yayasan Kakak. Staf Griya Menyusui Yayasan Kakak, Rita Hastuti, saat ditemui wartawan di stasiun KA setempat, mengungkapkan, pihaknya berupaya mengenalkan inisiasi menyusui dini dengan topeng perwayangan. Yang lebih menarik, hal itu bakal mereka kemas dengan kampanye via kereta api.
Para karakter wayang dari lakon Mahabarata yang diusung, akan menggelar kampanye ASI mereka di KA jurusan Solo-Yogyakarta, Prambanan Ekspres (Prameks). ”Kami ingin menunjukkan bagaimana ASI bermanfaat bagi perkembangan anak. Untuk pemilihan lokasinya di KA, itu semata-mata karena kami ingin menggambarkan bagaimana situasi menyusui dilakukan saat berada di situasi tergesa-gesa. Berada di dalam KA, khususnya Prameks, itukan berada dalam keadaan tergesa-gesa,” lanjutnya.

Oleh : Tika Sekar Arum, Heriyono AA

http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h06&id=282171

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *