Catatan Advokasi PKL: Menyatukan Keberanian Hidup Yang Berserak

Menghadapi tekanan pemerintah Kota Surakarta, warga PKL PEKAROSO (Paguyuban Pedagang Kaki Lima Ronggowarsito Solo) pilu. Mereka memang merasa bersalah berjualan di atas lapak milik negara, namun jika harus direlokasi masuk ke pasar tradisional, bagaimana dagangan yang berupa makanan tersebut bisa laku (terjual)?  Ramainya omset jaulan makanan mereka karena di lokasi tersebut berada di sekitar Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo. Para keluarga pasien itu, yang selama ini menjadi pasar PKL Ronggowarsito. Jika dipindah ke lantai 2 Pasar Kadipolo yang sepi itu, yang pedagang biasa saja akhirnya memilih meninggalkan kios, apakah para PKL bisa laku?

Awal November 2010 itu, warga PKL PEKAROSO tidak tahu dimana akan berjualan lagi jika lapaknya dibongkar Pemerintah kota Surakarta. ”Saya jualan di sini sudah 18 tahun, Mas” kata Pak Mino, PKL asal Wonogiri yang setiap hari menjual bakso di sebelah utara ruas Jalan Ronggowarsito, barat HIK Pak Jembuk yang berada di barat pintu utama PKU Muhammadiyah Surakarta. ”Dulu ketika belum ada mesin penggilingan daging, masih menggunakan metode cincang, sehari bisa menjual sampai 10 kilo, Mas” tambahnya. Dirinya selalu menjaga kebersihan lingkungan di sekitar lapaknya dan selalu mohon izin kepada pemilih rumah sebelah utara lapaknya.

Lain lagi dengan Pak Yanto, pedagang nasi soto dan nasi sayur yang mengaku tiap malam tidur di kiosnya bersama istri ini, sebelumnya jual sembako di Pasar tradisional yang sekarang didirikan Hotel Novotel. Ketika dimulai Pembangunan Novotel dirinya dipindah ke Pasar Tradisional Jongke. Hanya bertahan 3 bulanan; dagangan tidak laku, padahal setiap hari butuh makan untuk keluarganya. Dagangannya pun akhirnya habis terkonsumsi, modal pun juga habis. Akhirnya dirinya memutuskan untuk membuka lapak diselatan Jalan Ronggowarsito tepatnya sebelah timur pintu utama RS PKU Muhammadiyah, hampir bersamaan dengan Pak Mino. ”Setiap malam saya dan istri ya tidur di warung, karena rumah saya tidak cukup lagi untuk tidur ber-7 dengan anak-anak” katanya. ”Ya tiap malam dilompati tikus itu sudah biasa Mas” tambahnya.

”Pak Wali lebih memilih ngopeni (memelihara) rumput daripada ngopeni warganya, Mas”

Ada 30 PKL aktif yang dulu pernah membentuk paguyuban, namun kemudian paguyuban tidak aktif lagi. Setelah Pemkot mensosialisasikan kebijakannya untuk mengubah lapak mereka menjadi taman. ”Pak Wali lebih memilih ngopeni (memelihara) rumput daripada ngopeni warganya, Mas” kata mereka mereflesikan kepasrahannya. Walaupun sebagian orang sedang mengalami kegundahan tersebut, Pak Yanto, Nanang dan Pak Suyadi Sate menggugah semangat antar sesama.

Nanang misalnya, kader PAC-Partai berlambang banteng moncong putih itu, akan mempertahankan lapaknya sampai darah penghabisan. Suyadi berkeras untuk menemui Pak Walikota untuk mengajukan keberatannya. Sedangkan Pak Yanto tidak akan membongkar lapaknya dan akan melawan Satpol PP bersama-sama jika benar-benar akan membongkar lapak.

”Keberanian” yang berserak ini akhirnya mampu membangkitkan semangat bersama untuk bernegosiasi dengan Pemerintah Kota Surakarta. Dengan meminjam teras TK Taman Putra Mangkunegaran, pertemuan pertama dilaksanakan untuk merencanakan materi tanggapan kepada Walikota atas sosialisasi yang dilakukan Kepala Dinas Pengelola Pasar. Adalah M. Najmuddin yang berperan selaku FOSMINSA senantiasa aktif mengelola pertemuan komunitas ini bersama Pattiro Surakarta, termasuk memerankan media massa. Turut hadir untuk menyemangati komunitas Sriyanto (koordinator Aliansi PKL Surakarta, ketua Paguyuban PKL Gotong-royong Jalan Veteran).

Serangkaian agenda advokasi kebijakan ditempuh, konsolidasi peguyuban, perumusan isu dan tuntutan, beraudiensi dengan walikota, evaluasi dan konsolidasi anggota paguyuban, protes melalui corat-coret pada banner warung, kampanye media massa, audiensi dengan pimpinan DPRD Kota Surakarta, lobby dan pencarian dukungan dan lain-lain. Serangkaian kegiatan advokasi ini membuathkan hasil diizinkannya PKL tetap bisa berjualan di sekitar RS PKU, namun dipindahkan ke lahan khusus yang berada di depan TK Putra Mangkunegaran.

Disetujuinya model penataan yang tidak serta merta merelokasi PKL ke pasar tradisional ini, dengan alasan dagangan PKL yang berupa makanan memiliki sifat yang mendekati pelanggan.  Jika dipisahkan dari pelanggan (seperti dimasukkan ke pasar) dapat dipastikan tidak akan laku, apalagi sebelumnya di pasar tradisional juga sudah terdapat penjual makanan. Kini Paguyuban sedang bersiap untuk menata diri, dengan desain model shelter secara partisipatif, dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan sekitar PKL.

Oleh : Ahmad Rofik
Pegiat Pattiro Surakarta

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *