Angka Putus Sekolah di Klaten 4.283, 6.110 Anak Belum Pernah Sekolah

Klaten (Espos) Sebanyak 6.110 anak usia wajib belajar (Wajar) sembilan tahun di Klaten tak pernah bersekolah. Mereka terdiri atas 202 anak usia 7-12 tahun dan 5.908 anak usia 13-15 tahun.

Angka tersebut diperoleh dari hasil Sistem Informasi Pendataan Berbasis Masyarakat (SIPBM) yang diprakarsai United Nations Children’s Fund (Unicef) beberapa waktu lalu. Dari data SIPBM yang diperoleh Espos dari Komisi IV DPRD Klaten, Kamis (30/7), selain 6.110 anak usia Wajar yang belum pernah menikmati sekolah, terungkap pula adanya 4.283 anak yang terpaksa putus sekolah atau drop out (DO).
Angka DO tersebut terdiri atas 424 anak usia 7-12 tahun dan 3.859 anak usia 13-15 tahun yang DO. Total anak yang terdata dalam SIPBM tersebut mencapai 92.825 anak (7-12 tahun) dan 53.223 anak (13-15 tahun).
“Ini memang bukan masalah yang mudah, anak tidak sekolah dan lain sebagainya tidak serta-merta berada dalam keadaan yang normal untuk sekolah. Ada yang karena faktor ekonomi, juga ada yang karena memang sulit sekolah,” jelas Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Pemkab Klaten, Rantiman, kepada wartawan di kompleks Setda Pemkab Klaten, Kamis (30/7).
Tercatat sebanyak 17.074 anak yang telah lulus pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Jumlah tersebut terdiri atas 699 anak usia 7-12 tahun dan 16.375 anak usia 13-15 tahun.
Namun Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten Sunardi menyatakan jumlah siswa putus sekolah di wilayah itu tidak besar. Dari laporan yang ada padanya, jumlah siswa SD yang putus sekolah hanya 75 anak, sementara di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) hanya 23 anak. Dia bahkan mengungkapkan, angka partisipasi kasar (APK) untuk tingkat SD mencapai 124%. “Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Klaten cukup bagus,” kata dia.
Menanggapi perbedaan data tersebut, Kasubbag Perencanaan dan Pelaporan Disdik, Liestyawati mengingatkan bahwa data Disdik diambil dari sekolah-sekolah. Sementara menilik mekanisme SIPBM, data diambil langsung dari masyarakat. Untuk hasil SIPBM, jelasnya, Kecamatan Trucuk mengantongi jumlah anak tertinggi yang pendidikannya tidak tuntas Wajar. – Oleh : Heriono Adi Anggoro

http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h06&id=281562

Irfan

Bergabung dengan PATTIRO Surakarta sejak 2009 sebagai Staff IT. Tugas utamanya adalah mengelola keberadaan situs PATTIRO Surakarta ini. Blog pribadinya adalah http://irfanhanafi.web.id.

You may also like...

1 Response

  1. irfan says:

    wow… ckckckc..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *