Analisis Kebijakan dan Anggaran dalam Bidang Kesehatan pada Perencanaan Penganggaran Tahun 2010 Kota Surakarta

Senin, 28 September 2009 Pusat Telaah Informasi Regional (PATTIRO) Surakarta mengadakan Forum Group Discution (FGD) dengan tema “Analisis Kebijakan dan Anggaran di Bidang Kesehatan pada Perencanaan Penganggaran Tahun 2010 Kota Surakarta”. Acara tersebut bertempat di Hotel Indah Palace (HIP). Acara dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 12.30 WIB. Pada kesempatan itu ada beberapa peserta dari Puskesmas yang hadir yakni Suci Wuryanti dari Puskesmas Sangkrah, Dwi Martyastuti dari Puskesmas Pajang dan Retno dari Puskesmas Jeyengan. Selain itu hadir pula Handayani dari DKK dan Wido dari RSUD Dr. Moewardi. Dari pihak PATTIRO sendiri hadir sebagai fasilitator yakni Setyo Dwi Herwanto serta Ifazah Alawiyah.

[singlepic id=184 w=320 h=240 float=left]Dalam FGD tersebut dibahas beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan yakni alokasi anggaran dari dinas kesehatan yang selama ini masih besar pada upaya kuratif yakni untuk program PKMS, sedangkan untuk upaya promotif dan preventif masih sangat kurang. Hal tersebut sebagaimana juga yang dikemukakan oleh Handayani dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta yakni untuk dana kesehatan di tahun 2008 ada dana PKMS sebesar 12 M, 2009 telah terbentuk UPTD sendiri dengan dana 16 M, sedang 2010 rencananya untuk PKMS 21 M, sarana & prasarana 7 M. Promosi 1,4 M, Pengadaan obat 1,4 M, hampir semua anggaran untuk upaya kuratif. Sedangkan untuk upaya preventif dinilai sangat sedikit.

Upaya promotif yang kurang dana dapat disiasati dengan adanya sinergi antar SKPD-SKPD terkait, dimana program-program yang dibuat dapat sejalan sehingga dapat saling membantu sebagaimana yang diungkapkan oleh Seyto dari PATTIRO yakni sinergi antar SKPD dapat dilakukan misalnya dari Bapermaskin dengan sosialisasi KB yang perlu ditingkatkan, pengoptimalan desa siaga yang tidak harus dinas kesehatan saja yang mempersiapkannya. Bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan atau yang lainnya. Untuk promosi kesehatan, perlu adanya inovasi misalnya dengan mendatangkan public figure atau sosialisasi lewat pengajian-pengajian dan khutbah jum’at yang dapat disampaikan oleh tokoh agama atau dapat juga melalui pondok pesantren.

Galleri Terkait

Rokhmad Munawir

lebih lanjut tentang beliau sila kunjungi blog pribadinya di Rerasan dari Dusun

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *