“Analisis Kebijakan dan Anggaran dalam Bidang Kesehatan pada Perencanaan Penganggaran Tahun 2010 Kota Surakarta”

Pattiro Surakarta pada hari Kamis tanggal 1 Oktober 2009 bertempat di Hotel Indah Palace (HIP) mengadakan diskusi expert dengan tema “Analisis Kebijakan dan Anggaran di Bidang Kesehatan pada Perencanaan Penganggaran Tahun 2010 Kota Surakarta”. Acara tersebut berlangsung mulai dari pukul 09.00 hingga pukul 11.30 WIB. Dalam diskusi terebut Pattiro Surakarta mengundang peserta dari beberapa elemen diantaranya dari akademisi, profesional/praktisi, LSM Kakak, LSM Interaksi, LSM Talenta, dan Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah. Para ahli yang berkesempatan hadir pada acara tersebut adalah Edi Supriyanto dan Mulyani dari LSM Interaksi, Yuli Kusumawati dari Kesehatan Masyarakat UMS, Endang Sutisna dari Fakultas kedokteran UNS dan Sumilir Wijayanti dari Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah. Selain itu juga hadir Setyo Dwi Herwanto dan Ifazah Alawiyah dari Pattiro.

Dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Surakarta membutuhkan sinergi antar stakeholder pembangunan, baik antara pemerintah dengan masyarakat, antara satuan kerja perangkat daerah, maupun antar elemen masyarakat. Untuk itu perlu adanya pemahaman bersama terhadap proses dan permasalahan yang muncul dalam proses pengentasan kemiskinan. Hal tersebut menjadi alasan mengapa Pattiro dalam diskusi ini mengundang peserta tersebut. Diskusi yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut menghasilkan beberapa permasalahan di sektor kesehatan yang perlu dikaji lebih lanjut ditataran kota. Beberapa point permasalahan tersebut yakni tentang rencana penghapusan anggaran untuk  Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk tahun 2010, pengaktifan kembali dokter kecil, persiapan desa siaga, revitalisasi posyandu, dan anggaran kesehatan khusus untuk difabel.

Pembahasan mengenai anggaran untuk PHBS menjadi penting karena PHBS merupakan suatu usaha preventif yang menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan paradigma sehat di masyarakat. Selain itu PHBS dapat mengurangi angka Kejadian Luar Biasa (KLB) yang mulai muncul beberapa tahun terakhir ini. Sedangkan untuk pengaktifan kembali dokter kecil juga dirasa perlu agar mereka bisa menjadi jumantik yang akan ikut membantu untuk bertugas memantau jentik di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya. Dengan pengaktifan kembali dokter kecil tersebut diharapkan akan membantu mencegah kasus DBD di Surakarta. Selain itu adanya desa siaga juga dirasa penting dengan tujuan untuk membangun kesadaran masyarakat dengan meningkatkan kapasitas dari masyarakat. Salah satu program dari desa siaga adalah pembangunan sanitasi.

Untuk revitalisasi posyandu penting karena masih belum menampakkan hasilnya. Hal tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh  Endang Sutisna yang terbukti dengan posyandu selama ini hanya untuk penimbangan dan pemberian imunisasi saja tidak ada pemberian sosialisasi dan penggunaan buku KMS sesuai dengan prosedur dan manfaatnya. Mengenai anggaran untuk kaum difabel dirasakan masih sangat minim dan belum sampai ke taraf kebijakan dan program dari pemkot juga belum berjalan dengan baik serta tidak berkelanjutan. Dari hasil inventarisasi masalah tersebut akan dibahas kembali dalam forum antara masyarakat, pengambil kebijakan (SKPD) dan para ahli dibidang kesehatan.

Rokhmad Munawir

lebih lanjut tentang beliau sila kunjungi blog pribadinya di Rerasan dari Dusun

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *